Selamat pagi. Cerita tentang Yesus dimuliakan di atas gunung pada Markus 9:2-10 sangat menarik diperhatikan. Cerita ini dimulai usai Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan menderita, ditolak, dibunuh, dan bangkit pada hari yang ketiga setelah kematian-Nya. Petrus marah dan akhirnya dihardik Yesus. Agar Petrus bisa belajar lebih bijaksana tidak heran jika ia dan dua rekannya diajak untuk menyaksikan suatu perjumpaan antara Yesus, Musa, dan Elia. Dalam perjumpaan ini cerita menyaksikan bagaimana Yesus mengalami transfigurasi, perubahan "wajah" yang sangat mencengangkan, yang digambarkan dengan memakai pakaian yang berkilauan yang tidak pernah dipakai orang lain termasuk Musa dan Elia sekalipun. Cerita ini hendak menunjukkan bagaimana Yesus mempunyai posisi yang jauh berbeda dari Musa dan Elia. Inipun hendak menunjukkan kedudukan Yesus yang melampaui Taurat dan para nabi lainnya. Sekalipun demikian, cerita ini juga hendak mengatakan bahwa Yesus hendak mendengar apa yang mau disampaikan Bapa-Nya kepada-Nya melalui mereka. 

Yang menarik adalah respons para murid pada peristiwa itu. Mereka seakan hendak menikmati peristiwa itu selamanya. Mereka sangat terpukau. Ada semacam apa yang dikatakan Rudolf Otto sebagai *_Mysterium tremendum et fascinanosum_*, suatu peristiwa yang menakutkan/menggetarkan namun mempesona/memikat. Ini digambar dengan keinginan membuat tenda bagi Yesus, Musa dan Elia, namun itu dilakukan karena mereka takut dan gentar sekaligus terpesona oleh peristiwa itu. Ini adalah makna terdalam orang beriman dalam perspektif filosofis. 

Yang menarik dan sangat penting, cerita bergeser dari soal peristiwa transfigutasi dan membuat tenda yang filosofis kepada soal suara dari dalam awan yang mengatakan "inikah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia" yang teologis. Ini adalah suara Bapa-Nya. Pada Yesuslah segenap rencana Allah akan diwujudkan, karena itu mereka harus mendengar-Nya. Mereka perlu berfokus pada Yesus dan karya-Nya, bukan kepada yang lain. Kematian Yesus dan siapa sesungguhnya diri-Nya harus dirahasiakan pada orang banyak sampai pada pengungkapan sepenuh ketika Ia bangkit dari antara orang mati. Injil Markus memang dikenal sebagai Injil rahasia salib yang di baliknya akan terungkap siapa Kristus sebenarnya. Untuk dapat mengungkap rahasia salib mereka harus turun gunung dan berkarya mengikuti Yesus. Murid-murid tidak boleh hidup dalam kemewahan untuk mengenang peristiwa trasfigurasi yang memukau. Keterpukauan hanya pada peristiwa karya penyelamatan: menyembuhkan luka batin orang, menolong mereka yang membisu karena  kekuasaan politik, dan terus menyuarakan pembebasan dari semua belenggu kelaliman. Pada karya penyelamatan ini kita bisa melihat peristiwa sosio-politik berkelindan dengan peristiwa teologis. Yang sosio-politik harus dikritisi secara teologis, dan yang teologis mewujud dalam peristiwa sosio-politik. Pada titik inilah yang sosio-politik merupakan yang teologis. Sosio-politik sebagai teologi. Ini adalah tantangan dan kesempatan secara teologis murid-murid bersama Yesus. Tentu ini juga menjadi tantangan dan kesempatan  gereja berteologi dalam konteks masa kini, mewujudnyatakan teologi dalam peristiwa sosio-politik. Gereja perlu membuka telinganya lebar-lebar untuk terus mendengarkan suara dari dalam awan yang mengatakan "inilah Anak yang Kukasih, dengarkanlah Dia". Ya, dengarkanlah Dia serta lakukanlah. 

Sebagaimana Markus merahasiakan makna salib Kristus, saya pun berhenti di sini agar ada "rahasia" juga. Tidak seperti murid-murid Yesus yang terus mendebatkan apa yang dimaksud "bangkit dari antara orang mati". Yesus tidak menghiraukan itu, karena itu saya tidak mau Yesus tidak menghiraukanku. Selamat hari minggu. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati. *DR* (15/2/26)