Selamat pagi. Saat ini saya mengajak kita untuk mencoba melihat kisahpencobaan Yesus di padang gurun dengan cara yang lain. Biasanya orang melihat pencobaan Yesus di padang gurun hanya dengan melihat dialog Yesus dengan iblis sebagaimana adanya. Saat ini saya coba mengajak kita untuk melihat pikiran macam apa yang ada pada penulis Matius yang ditaruh dalam mulut iblis dengan mempertimbang konteks sosio-politik yang sedang dihadapi penulis injil Matius. Saya percaya pada beberapa teolog yang memperkirakan bahwa injil Matius ditulis di sekitar tahun 60 M. Pada saat itu kaisar Nero menjadi pemimpin politik yang bengal dan jahat. Ia memprovokasi orang Roma dan Yahudi untuk menghancurkan orang Kristen karena orang Kristenlah yang membakar kota Roma. Provokasi Nero ini membuat orang Kristen diburuh dan dibunuh, padahal sesungguhnya Nerolah yang melakukan pembakaran kota Roma dengan tujuan membangunnya kembali. Dalam konteks sosio-politik semacam inilah injil Matius seharusnya dibaca. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan kekuatan pada kekristenan untuk tetap percaya pada Kristus, sekalipun mereka sedang didera kemalangan penindasan.
Pencobaan pertama ketika Yesus sedang berpuasa yang dilakukan iblis pada Yesus adalah meminta Yesus merubah batu-batu menjadi roti. Menariknya, kalimat pertama yang dikatakan oleh iblis pada Yesus adalah "jika Engkau Anak Allah". Kata "jika Engkau" dalam bahasa Indonesia dimengerti sebagai suatu kondisi sebagai suatu prasyarat yang jika dipenuhi akan mengakibatkan suatu konsekuensi. Jika dihubungkan dengan Yesus sebagai Anak Allah, maka kata "jika Engkau" dapat dimengerti bahwa Yesus adalah betul sebagai Anak Allah jika Ia bisa menunjukkan kemampuan-Nya untuk merubah batu-batu menjadi roti. Jika tidak bisa, maka sesungguhnya Yesus bukan Anak Allah. Jadi sesungguhnya ada keraguan dari iblis bahwa Yesus adalah Anak Allah. Iblis melihat Yesus sebagaimana dirinya yang selalu mau menunjukkan kehebatan agar banyak orang mengikuti dan menyembahnya. Cara iblis meminta Yesus melakukan kemauannya ini sesunggunya mau mengarahkan Yesus juga agar tunduk padanya. Dengan tenang Yesus menjawab, bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Jawaban ini hendak memperlihatkan bahwa Yesus tidak tunduk pada kuasa iblis.
Sebagai bapak dari segala kejahatan, iblis, tidak mau kehilangan akal. Segala cara harus dilakukan untuk membuat Yesus tunduk padanya. Iblis sengaja membawa Yesus ke Kota Suci (Yerusalem) dan menempatkan-Nya di atas bubungan bait Allah. Lagi-lagi iblis memakai kata "jika Engkau" yang tentunya menunjukkan keraguan iblis pada Yesus sebagai Anak Allah, dan karena itu Yesus harus membuktikan diri-Nya menjatuhkan diri dari atas bubungan Bait Allah, sebab jika Yesus melakukannya maka Allah sendiri akan turun tangan menyelamatkan-Nya. Selain itu, dalam pikiran iblis yang selalu narsistik untuk selalu meminta dipuja, jika Yesus mengikuti kehendaknya dan betul Allah akan menolong-Nya, maka sesungguhnya Yesus dan Bapa-Nya telah tunduk padanya. Menghadapi cobaan iblis ini, lagi-lagi, dengan tenang Yesus menolak dengan semacam peringatan pada iblis bahwa ia jangan mencobai Tuhan Allahnya!
Sebagai bapak dari segala kejahatan, iblis masih tetap berusaha sedemikian rupa untuk mencobai Yesus. Kali ini dengan membawa-Nya ke atas gunung yang tinggi, simbol kuasa atas dunia. Kali ini iblis betul-betul secara telanjang memperlihatkan motivasi sebenarnya, bahwa ia akan memberikan semua kerajaan (simbol kuasa absolut di bawah iblis) dan kemewahannya (simbol kekayaan) pada Yesus jika Yesus menyembahnya. Tujuan iblis hanya satu, apapun dan siapapun, selama segala sesuatu ada di bawah kolong langit ini mereka harus menyembahnya. Kegilaan pada keinginan disembah ini membuat dia meragukan Yesus sebagai Anak Allah, dan jika pun benar Yesus adalah Anak Allah maka Yesus pun harus menyembahnya agar tidak ada yang bisa menyainginya. Pada momen yang memang sudah tidak bisa lagi ditolerir ini, maka Yesus pun harus menunjukkan siapa yang berkuasa dan harus disembah, yaitu Allah sendiri. Yesus mengusir iblis dengan hardikan "enyahlah, iblis!".
Jika kita tempatkan cerita ini dalam konteks sosio-politik sebagaimana saya katakan di atas, maka sesungguhnya penulis injil Matius 4:1-11 ini memakai metafora yang hendak menunjukkan kritik pedasnya pada kekuasaan yang jahat (disimbolkan sebagai iblis) yang selalu ingin dipuja dan disembah oleh manusia. Pelaku kejahatan yang utama ini adalah iblis sendiri yang merasa dirinya adalah pemilik kehidupan. Mencobai Yesus dengan menyuruhnya merubah batu-batu yang mati menjadi roti/makanan yang menghidupkan adalah suatu gambaran yang hendak menyatakan bahwa hidup ini milik iblis. Jika Yesus terjebak mengikuti kemauan iblis maka hidup Yesus pun milik iblis. Ternyata hidup Yesus bukanlah milik iblis. Hidup Yesus adalah milik (Firman) Allah. Hidup berasal dari Allah bukan dari iblis. Pengikut iblis yang pertama adalah para imam, tokoh-tokoh agama pada saat itu. Ini digambarkan penulis injil Matius dengan "Kota Suci" dan "bubungan Bait Allah". Kita tahu Yerusalem dan bait Allahnya adalah tempat para tokoh agama menjalankan aktivitas ritualistiknya, sambil bersamaan dengan itu mengendalikan kekuasaan politik bait Allah lewat ajaran-ajaran moral yang seringkali sangat memberatkan umat. Justeru merekalah yang sesungguhnya sering mencobai Allah. Mereka terbiasa memakai nama Allah untuk kepentingan politik mereka. Pada titik ini metafora Matius ini terasa daya tonjoknya. Lalu, dalam perspektif Matius ini, siapa yang sesungguhnya mencobai Allah? Jawabnya adalah para tokoh agama yang lalim pada saat itu!
Pengikut iblis yang berikut dan sesungguhnya paling sadis adalah mereka yang digambarkan sebagai gunung yang tinggi yang dari atasnya tampak semua kerajaan dan kemewahannya. Siapa mereka? Jawabnya tentulah para kaisar dan antek-anteknya. Pengusa politik yang absolut. Mereka digambarkan sebagai sekelompok orang yang gila kuasa dan kemewahan, tidak peduli nasib rakyatnya, yang sesungguhnya berada dalam kendali dan genggaman iblis. Penulis injil Matius melakukan kritik pedas pada para penguasa lalim yang merusak dan mengobrak-abrik nasip hidup masyarakatnya.
Pertanyaan buat kita/gereja yang hidup di zaman sekarang ini adalah dimana suara kritis dan kenabian gereja di tengah dunia yang ditandai oleh hiruk pikuk pertikaian politik, serta munculnya tokoh-tokoh agama yang suka menjual nama Tuhan, namun hidup bergelimang kekayaan, harta benda yang mewah, jam tangan ratusan juta dan bahkan milyaran, yang jauh dari rasa keadilan, yang menimbulkan jurang yang terjal antara mereka dengan nasip hidup sebagian umatnya yang miskin? Jika gereja diam, jangan-jangan gereja, tanpa disadari, sebenarnya telah menjadi pengikut iblis yang terus mencobai Tuhan. Karena itu, bersuaralah pada ketidakadilan, sebagaimana Yesus bersuara dengan menghardik iblis dengan mengatakan "enyalah, iblis!" Selamat hari minggu. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati. *DR* (15/3/26)