Perjuangkanlah Keadilan dan Kesetaraan Jangan Diam!


     Selamat pagi. Sudah lama kita tidak bertemu lewat renungan singkat. Saat ini kita coba mengelaborasi Bilangan 27:1-11. Sebelum masuk dalam bacaan saat ini umat Israel diharuskan untuk menghitung jumlah mereka. Dari situ mereka harus memilih pemimpin dalam satu kelompok dan pemimpin itu harus membagi tanah yang nanti diberikan Tuhan kepada mereka secara adil. Dalam tradisi atau kebiasaan masyarakat saat itu seorang perempuan tidak mempunyai hak apa-apa atas tanah. Hanya anak laki-laki yang mendapatkannya. Musa dan masyarakat Israel yang sedang di padang gurun itu mengikuti kebiasaan saat itu. Tidak perlu heran kalau dalam perencanaan mereka ketika mereka nantinya masuk dalam tanah Kanaan mereka akan melakukan hal yang sama. Perempuan, seperti kebiasaan saat itu, tidak akan mendapatkan sejengkal tanah pun. Diperlakukan seperti itu perempuan biasanya akan menerima saja. Ya seperti kebiasaan kita masyarakat modern saat ini bahwa kita pun sering mengikuti saja apa yang sudah biasa dilakukan tanpa bertanya secara kritis.

     Sangat menarik dalam kisah rencana pembagian tanah pada orang Israel. Ada anak-anak perempuan Zelafehad yang tidak mau tinggal diam. Mereka tidak mau menerima begitu saja perlakuan yang dibuat oleh Musa. Mereka dengan berani menghadap Musa, iman Eleazar, para pemimpin lainnya dan umat Israel secara keseluruhan. Dengan berani mereka menyatakan bahwa ayah mereka tidak termasuk orang-orang yang bersepakat melawan Tuhan. Ayah mereka bukan penghianat! Kalaupun ayah mereka mati, ia mati karena dosanya sendiri, bukan dosa secara masal (3). Namun kenapa nama ayah mereka dihapus?(4) Suatu pertanyaan yang sangat berani dan kritis! Kita perlu tahu bahwa penghapusan nama adalah penghapusan sejarah seseorang. Itu berarti keturunannya tidak akan pernah tercatat dan diperhitungkan orang. Keturunannya pun akan terhapus. Tidak sampai di situ saja mereka juga dengan sinis mempertanyakan apakah karena anak-anak ayah mereka adalah perempuan? (5) Sekali lagi ini adalah pertanyaan kritis dan menohok serta sangat berani. Bagaimana tidak, pertanyaan itu disampaikan di depan halayak umum dan Musa sebagai pemimpin tertinggi yang sangat disegani oleh orang Israel yang sedang dalam perjalanan menuju Kanaan di padang gurun. Pertanyaan yang tidak diduga-duga ini membuat Musa tidak bisa menjawab. Musa tidak mengantisipasi soal ini karena ia sendiri tidak pernah melihat ada orang yang menggugat kebiasaan yang sudah berurat akar dan biasanya diterima begitu saja. Ketidakmampuan Musa menjawab pernyataan dan pertanyaan kritis itu membuat Musa harus bertanya pada Tuhan. Musa tidak punya sedikitpun empati pada anak-anak perempuan itu, karena Musa dilatih untuk mengikuti saja tradisi yang sudah ada tanpa sikap kritis. Menariknya, ketika Musa mengadu pada Tuhan, Tuhan malah membenarkan tindakan heroik anak-anak perempuan itu dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh anak-anak itu adalah benar (7).

      Paling tidak ada 6 hal yang boleh kita petik untuk menjadi pelajaran berharga buat kita saat ini. Pertama, perlunya sikap kritis terhadap semua kebiasaan/tradisi yang ada di sekitar kita. Tidak ada tradisi yang tanpa cacat karena setiap tradisi adalah hasil budaya buatan manusia. Segala tradisi yang tidak menghadirkan kesetaraan dan keadilan harus dilawan. Kedua, kesetaraan dan keadilan bukanlan hadiah yang diterima begitu saja. Keadilan dan kesetaraan harus diperjuangkan sekalipun besar resikonya. Ketiga, dibutuhkan keberanian untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Dalam konteks narasi yang menjadi renungan kita menjadi sangat menarik karena yang berani memperjuangkan adalah anak-anak perempuan. Mereka tidak mau diam dan tidak mau diwakilkan. Perwakilan terhadap keadilan dan kesetaraan seringkali menjadi bias yang akhirnya bisa mengangkat ego yang mewakili, dan bahkan malah mereka seringkali meminta tanda jasa yang bisa berujung pada rendahnya harga diri orang-orang yang diperjuangkan. Keempat, perjuangan semacam itu bisa beresiko dicemooh dan bahkan dipinggirkan oleh masyarakat. Kelima, segala sesuatu harus dicoba. Jangan menyerah sebelum mencoba. Keenam, perjuangan semacam itu justru dibenarkan oleh Tuhan. 

     Dengan membaca narasi tersebut sesungguhnya ada nilai teologis/imani dari setiap orang yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Buat kita semua, terutama kaum perempuan, perjuangkanlah keadilan dan kesetaraan, paling sedikit demi jati diri Anda, dan demi berseminya keadilan dan kesetaraan di tengah masyarakat. Keadilan dan kesetaraan adalah sesuatu yang tidak terberi begitu saja. Ia harus diperjuangan walau besar resikonya. Menghadirkan  keadilan dan kesetaraan dalam arti yang luas pun harus diperjuangkan. Tidak boleh ada sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan apapun, baik atas nama Tuhan atau mayoritas, lalu membelenggu keadilan dan kesetaraan yang menjadi hak milik, serta harkat dan martabat manusia pada umumnya. Perjuangan merebut keadilan dan kesetaraan harus menjadi perjuangan bersama, laki-laki dan perempuan, antarumat beragama, antar suku dan antar ras, dan antar golongan. Perjuangan ini harus menjadi perjuangan teologis dan perjuanagn iman. Ingatlah, bahwa Tuhan membenarkan setiap orang yang melakukan perlawanan terhadap diskriminasi, serta perjuangan yang melahirkan keadilan dan kesetaraan. Selamat berjuang. Tuhan Yesus memberkati. Selamat hari minggu. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati. DR (28/06/26)