Selamat pagi. Mazmur 95 mengajak kita, umat-Nya, untuk datang menghampiri hadirat-Nya yang kudus. Bukan sekedar menghampiri dengan hati yang biasa, kering, wajah yang pucat pasih bagaikan orang yang kehilangan semangat. Melainkan, umat diajak untuk bersorak sorai dengan nyanyian yang penuh sukacita serta wajah yang mengucap syukur. Ini dilakukan karena pemazmur meyakini bahwa Allah adalah Raja yang besar. Raja yang besar di sini bukan berarti besar badannya, melainkan besar kekuasaan-Nya serta cinta kasih-Nya. Hal ini Allah perlihatkan lewat penyertaan-Nya pada para leluhur Israel di padang gurun, serta tentu saja pada Israel pada saat pemazmur melantunkan puji-pujiannya. Karena itu, tidak heran juga jika pemazmur mengajak Israel untuk datang menghampiri Allah dengan sikap hati yang menyembah, dan berlutut di hadapan-Nya. Ini berarti pemazmur mengajak agar umat Israel tahu diri, bahwa sesungguhnya mereka tidak ada apa-apanya tanpa kebaikan dan cinta kasih Allah. Israel diajak untuk tidak mengeraskan hatinya sebagaimana para leluhurnya, yang membuat Allah selama empat puluh tahun merasa jemu pada para leluhur mereka. Allah jemu karena para leluhur mereka sesat hatinya. Mereka bagaikan para budak yang tidak tahu berterima kasih pada tuannya, padahal tuannya selalu setia pada mereka. Pun bagaikan orang yang buta yang tidak tahu mana jalan yang benar. 

Menghampiri Allah dan tunduk menyembah di hadapan-Nya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ini dilakukan dan menjadi semacam panggilan umat yang menyadari kebaikan Tuhan yang tidak pernah putus dalam hidup Israel. Pertanyaan penting buat kita dimasa kini adalah apakah kebiasaan kita menghampiri Allah disertai juga dengan sikap tunduk dan menyembah? Atau, kita hanya sekedar menghampiri-Nya tanpa tunduk dan menyembah, karena kita datang hanya sekedar menjadi kebiasaan belaka, yang lambat laun kehilangan sikap tunduk dan menyembah. Jika kita menghampiri-Nya dengan sikap tunduk dan menyembah, maka akan terjadi perubahan dalam laku hidup kita. Jika tidak, maka tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam hidup kita. Hidup yang penuh pujian dan rasa syukur selalu diawali dari sikap hati yang tunduk (rendah hati) dan menyembah Dia. Selamat hari minggu. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati. *DR* (22/3/26)